Oleh : Eko Budi Santoso, S.Kep., Ns., M.Kes

Perilaku bukan hanya menjadikan sebuah permasalahan besar dalam setiap kehidupan bermasyarakat, tetapi perilaku suatu bagian yang sangat integral dalam membina dan menetukan sikap. Perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan melainkan adanya banyak faktor yang mengambil bagian dalam merubah peilaku tersebut. Hal ini pun mendorong saya sebagai penulis memberikan jabaran mengenai dampak sebuah perilaku yang cenderung pada kasus berisiko tinggi terjadinya HIV/AIDS dan IMS khusus pada kalangan remaja. Dari hasil sebuah penelitian Eko Budi Santoso Faktor Berisiko HIV/AIDS dan IMS mendapatkan bahwa permasalahan terjadinya sebuah risoko HIV/AIDS dan IMS dikalangan remaja tidak hanya dilihat dari segi tingkat pengetahuan melainkan melihat semua faktor seperti Predisposing, Reinforcing, and Enabling (Teori Preced and Proced). Dampak dalam penyimpangan perilaku pun dalam sosial masyarakat terutama remaja sangat rentang, maka dari itu kita harus paham akan dampak dari setiap sikap yang mereka tempuh.

Semangkin meningkatnya teknologi di era kontemporer ini membawa banyak perubahan yang mendasar dalam mempengaruhi perilaku manusia, secaran konseptual remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Secara analisis yang berkesinambungan perkembangan remaja dibagi menjadi 3 tahapan yang komprehensif, yaitu masa remaja awal 12-15 tahun, masa remaja madya 15-17 tahun, dan masa remaja akhir 18-21 tahun. Atas pembagian tersebut maka masa remaja sangat penting dalam mengawali sebuah kehidupan bermasyarakat, namun remaja masih dalam masa peralihan yang mana remaja akan bertindk seolahnya sebagai orang dewasa untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku yang sesuai dengan dirinya.

Remaja juga erat kaitanya dengan pencarian identitas, yang akan ditentukan dalam hal berpakaian, gaya berbicara dan gaya berkawan disesuaikan dengan keinginan dirinya dengan cara membuat suatu kelompok atau geng. Hal ini terus akan terjadi dikala remaja, namun lambat tahun akan mendapatkan identitas yang dirasa cocok dan sesuai dengan dirinya. Masa remaja bisa dibilang adalah bagian dari masa uji coba dalam melakukan atau menentukan sebuah perilaku, kadang ada yang salah dalam menentukan sikap dan tak jarang pula ada yang benar dalam menentukan sikap.

Banyak yang beragkapan bahwa perilaku berisiko berawal dari suatu kebijkan dalam dirinya mengalami sebuah kesalahan yang bisa berdampak pada dirinya. Hal itu pun tertuang dalam sebuah penelitian Eko Budi Santoso berkaitan tentang risisiko HIV/AIDS dan IMS pada remaja ditemukan bahwa 757 remaja didapatkan 120 remaja yang mana telah melakukan hubungan intim secara aktif. Dari hasil penelitian itu pun kita akan berfikir aspek apakah yang bisa menyebabkan sekitar 150 remaja nekat berperilaku menyimpang.

PERILAKU SEKSUAL BERISIKO

Perilaku seksual terjadi akibat adanya dorongan seksual yang terjadi secara homoseksual atau heteroseksual, perilaku berisiko yang terjadi pada remaja akibat adanya kesalahan dalam menafsirkan segi kehidupan sehingga aktivitas seksual dilakukan pada masa pranikah. Adapun biasa terjadi akibat dari sikap orang tua yang tidak terbuka akan seksual dan mendapatkan dorongan serta kegiatan seksual dari teman sebaya yang bisa mempengaruhi perilaku remaja tersebut. Berikut beberapa faktor yang bisa menyebabkan terjadinya perilaku berisiko pada remaja

  1. Faktor Usia Remaja

Menurut penelitian yang telah didaptkan sebanyak 55,8% pada usia 15-17 tahun (67 remaja) dan 44,2% pada usia >18 tahun (53 remaja). Umur merupakan faktor penting dalam kehidupan sepanjang dalam proses berfikir akan melihat dari dampak dan cara pandang yang tidak akan sama. Hasil kemampuan dalam proses berfikir manusia dilihat dari semangkin tua maka suatu pengambilan sikap akan perilaku diharapkan semangkin bisa dilalui dan lebih dewasa dalam bertindak.

  1. Faktor Pengetahuan Remaja

Menurut penelitan menyimpulkan bahwa pengetahuan baik akan pengetahuan sebesar 38,7% dan pengetahuan buruk sebesar 77,6%. Dalam hal ini terlihat sekali pengetahuan sangat memegang penuh akan sebuah tindakan yang akan dilakukan menginta pengetahuan adalah sebuah hasil dari segi tahu terhadap sesuatu objek tertentu, pengetahuan berasal dari sebuah pengalaman dan informasi yang telah didapat dari orang lain sebagai sumber dari arah sebuah tidakan yang akan mereka ambil.

Pengetahuan yang buruk akan berdampak oleh perilaku yang berisiko terlebih pengetahuan itu tidak mereka dapatkan di orang tua melainkan dari teman sebaya yang cenderung memiliki pengalaman berperilaku negatif. Secara garis besar bahwa pengetahuan sangat besar pengaruh terhadap gaya dan identitas remaja dalam berkecimpung di masyarakat luas, melihat hal yang demikian kita sebagai tenaga kesehatan harus memiliki tanggung jawab akan peningkatan pengetahuan yang optimal agar mereka mendapatkan pembelajaran akan seksualitas secara koheren.

  1. Faktor Sikap

Remaja pada umumnya memiliki tanggapan akan penentuan sikap yang berbeda antara individu, karena dalam remaja memiliki komponen kepercayaan dan keyakinan terhadap suatu konsep dan pola pikir yang dapat mengevaluasi suatu obyek sebagai bagian dalam bertindak yang dimana akan membentuk suatu komponen yang utuh. Komponen dalam sikap memiliki tahapan yaitu komponen kognitif sikap (suatu kepercayan yang dianggap benar terhadap suatu obyek), komponen afektif (suatu problematika dalam remaja berkaitan dengan emosional terhadap suatu obyek), dan komponen konatif (menunjukkan bagaimana kecenderungan perilaku dalam suatu obyek).

Remaja hampir sangat berpegang teguh pada keyakinan diri sebagai pembenaran dalam melangkah dan mengabil sebuah pengalaman, sehingga sangat rentang selaki remaja mengalami risiko berperilaku menyimpang.

  1. Faktor Perilaku Teman Sebaya

Masa remaja dimana dapat dilihat dari sebuah perkembangan yang mana pada masa ini remaja lebih cenderung berada diluar dibandingkan di dalam rumah, lebih seringnya beraktivitas bersama teman nya dibandingkan dengan orang tua. Hal ini pun dapat membuatkan seorang remaja akan berisiko mendapatkan informasi dan pengalaman yang buruk dari teman yang biasanya bisa menjadikan sebuah persepsi dalam bertindak.

Pengaruh lingkungan sangat berperan besar terhadap perubahan perilaku remaja. Remaja memiliki tingkatan emosi yang masih labil dan selalu membenarkan teman sebaya dalam setiap kegiatan seperti gaya pacaran hingga bisa menyebabkan kehamilan tidak diingnkan yang biasa bersumber dari ajakan teman sebaya. Teman sebaya tidak harus berdampak negatif pada remaja tapi juga ada yang berdampak positif dengan bimbingan orang tua yang harus secara kontinu mengawasi remaja disetiap pergaulannya.

  1. Ketersediaan Sarana Pelayanan Kesehatan Berkaitan dengan Remaja

Pemerintah melalui program yang dekat dan care dengan remaja sudah cukup membantu dalam pengenalan suatu masalah yang sering terjadi dikalangan remaja, hal ini pun bisa berdampak baik terhadap keberlangsungan remaja dalam mengabil sebuah sikap akan kehidupannya kelak. Berbagai macam program yang telah dilaksanakan adalah PIKKRR yang dekat dengan remaja dana berbagai program pelyanan tentang informasi dan konseling, pelayanan klinis bagi remaja yang secara aktif seksual. Tapi seiring dengan semangkin meningkatnya perkembangan teknologi masih berdampak yang negatif karena remaja cenderung lebih memilih media sosial dibandingkan dengan melakukan konseling. Maka dari itu kita sebagai pelayanan kesehatan harus bisa mencarikan jalan yang alternatif dalam menyeimbangkan peningkatan teknologi dengan membuat berbagai macam kegiatan di dunia sosial media sebagai pendekatan kepada remaja.

Leave a Reply

Your email address will not be published.