Oleh: PINKY PININTA DEWI,S.Ak.M.M. (Kaprodi S1 Akuntansi)

Pendahuluan

Keluarga adalah sekumpulan orang yang memiliki hubungan seperti hubungan perkawinan, adopsi, kelahiran yang tujuannya menciptakan dan mempertahankan budaya umum, sosial dan emosional anggota. Membangun rumah tangga merupakan bagian dari niat untuk menyempurnakan ibadah. Namun, dalam sebuah perjalanan berumah tangga tidak lepas dari konflik dengan berbagai macam permasalahan. Faktor yang sering menjadi penyebab konflik adalah masalah ekonomi atau keuangan. Pada masalah keuangan, tidak sedikit rumah tangga yang gagal karena tidak dapat memahami apa fungsi dari harta dan bagaimana cara mengelola harta tersebut dengan benar.

Dampak dari pandemi juga menambah ujung permasalahan keuangan dalam rumah tangga. Beberapa anggota keluarga yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) maupun pengurangan gaji atas kebijakan efisiensi biaya dari perusahaan. Hal tersebut mengakibatkan pemasukan pendapatan keluarga menjadi berkurang drastis, begitu pula dengan pengusaha yang mengalami penurunan omset di masa pandemi ini.

Masalah keuangan seringkali tidak bisa dihindari dalam berumah tangga. Namun, jika kita memiliki peran untuk mengendalikan keuangan dengan baik, kita memiliki kesempatan yang besar untuk menyelamatkan keuangan lebih cepat daripada mereka yang tidak memiliki kendali dalam keuangan. Mengelola keuangan keluarga dengan baik merupakan salah satu kunci kesuksesan keluarga. Pengelolaan keuangan keluarga atau rumah tangga ini lebih rumit dibandingkan mengelola keuangan pribadi karena melibatkan banyak orang yaitu suami, istri dan anak-anak.

Jika pengelolaan keuangan rumah tangga ini berjalan benar, maka beruntunglah anggota keluarga. Namun kalau salah kelola, maka siap-siaplah mengalami masalah keuangan bahkan sebelum habis bulan.

Siapapun yang bertanggungjawab mengelola keuangan keluarga, apakah istri atau suami, dia bertugas mengatur pengeluaran, mulai dari dana operasional hingga cicilan kartu kredit, uang sekolah anak, liburan, bantuan sosial atau agama, hingga jajan di luar rumah. ‘Bendahara’ keluarga ini didorong untuk lebih kreatif dan hati-hati dalam soal ini, karena keberlangsungan rumah tangga tergantung dari pintarnya mereka mengatur uang.

Kemampuan keluarga dalam mengatur harta atau mengelola keuangan sangat diperlukan dalam lingkup keluarga. Seluruh anggota keluarga dapat berperan dalam mengelola keuangan, sehingga diharapkan dapat memahami prinsip dalam keluarga. Apalagi dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian terutama pada masa pandemi ini. Peran pengelolaan keuangan keluarga dapat diputuskan melalui musyarawah dalam keluarga.

Permasalahan

 Permasalahan keuangan yang sering dihadapi oleh keluarga salah satunya yaitu kebiasaan gali lubang tutup lubang, meminjam ke suatu tempat untuk menutup pinjaman di tempat lain, maraknya meminjam uang menggunakan aplikasi online (Pinjol) dan juga tidak ada perencanaan khusus terhadap pemasukan dan pengeluaran.

Cara merencanakan keuangan antara keluarga yang mempunyai hutang dengan keluarga yang tidak mempunyai hutang tentu berbeda. Alokasi penghasilan yang mereka dapatkan bagi keluarga yang mempunyai hutang meliputi alokasi membayar cicilan hutang, memenuhi kebutuhan harian, menabung dan sebagian dialokasikan untuk hiburan.

Selain kemampuan untuk menyusun perencanaan keuangan keluarga, memiliki mindset yang tepat terkait rejeki dan kekayaan juga merupakan hal mendasar yang sangat penting. Mindset ini diharapkan dapat mengarahkan pemahaman kepada manusia terkahit hakikat dari rejeki dan kekayaan itu sendiri sehingga tidak sampai terjebak pada segi materi saja.

Hakikat kaya atau miskin adalam masalah mental. Adapun mental orang kaya adalah suka memberi, suka menabung dan gaya hidup yang sesederhana mungkin.

Gaya hidup sederhana secara otomatis akan membentuk kebiasaan berhemat, menggunakan uang seperlunya sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan. Banyak orang menceritakan kisahnya yang tidak pernah bisa menabung karena penghasilan yang didapatkan tiap bulan habis untuk keperluan konsumtif dan membayar hutangnya. Budaya menabung dan berinvestasi tidak akan pernah terbentuk jika skala prioritas pengeluaran belum tepat meskipun sebesar apapun penghasilan yang diperoleh.

Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan terlebih dahulu dalam menyusun sebuah skala prioritas. Pertama, tingkat urgensi. Suatu keadaan dimana kita harus mementingkan sesuatu hal yang harus segera ditindaklanjuti. Tingkat urgensi merupakan tingkat kepentingan pada suatu kebutuhan yang harus dipilih dan harus didahulukan. Sehingga dalam menentukan sebuah pilihan, harus memilah kebutuhan mana yang benar-benar urgent dan harus didahulukan.

Pembahasan

Solusi yang digunakan untuk memecahkan permasalahan yang ada adalah menyampaikan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan rumah tangga. Pengelolaan keuangan keluarga membutuhkan pemahaman dan komitmen seluruh anggota keluarga yang terlibat guna untuk mencapai tujuan jangka panjang yang dicapai. Perencanaan yang matang agar keinginan tersebut terwujud, maka ada beberapa langkah-langkah yang dapat diperhatikan dalam pengelolaan keuangan keluarga:

  1. Pencatatan Aset/Harta yang dimiliki
    Yang termasuk dalam harta benda adalah semua uang dan barang berharga yang dimiliki seperti rumah tinggal, tabungan, toko, perhiasan dan lainnya. Selain itu yang dapat dijual atau dijadikan uang tunai di masa depan maupun saat dibutuhkan (memiliki nilai ekonomis).
  2. Pencatatan Semua Pemasukan Dan Pengeluaran
    Kegiatan mencatat semua pemasukan dan pengeluaran akan memberikan informasi tentang banyaknya uang yang telah masuk dan yang dikeluarkan. Hal tersebut menjadi pertimbangan bagi seseorang untuk mengontrol pengeluaran yang tidak perlu. Pencatatan pemasukan dan pengeluaran juga membantu untuk mengetahui frekuensi pemasukan dan pengeluaran untuk suatu pos tertentu sehingga dapat membedakan pengeluaran mana yang termasuk kebutuhan dan mana yang termasuk keinginan.
  3. Identifikasi Pengeluaran Rutin, Bulanan dan Tahunan
    Setelah memiliki catatan pengeluaran, identifikasi apa saja yang menjadi pengeluaran rutin dan bagaimana frekuensinya. Untuk membuat keuangan rumah tangga lebih teratur, sebaiknya buat kalender tagihan setiap bulan. Tandai setiap tanggal berapa saja harus membayar tagihan air atau listrik (maupun jadwal membeli pulsa pre-paid token PLN), membayar uang sekolah anak, tanggal tagihan kartu kredit (jika ada), maupun tagihan lainnya. Biasakan untuk teratur melakukannya di awal bulan, setidaknya di tanggal 10 setiap bulan. Hal ini akan membantu untuk menjadi lebih teratur dan terhindar dari biaya denda.
  4. Menyusun rencana pengeluaran (Budgeting)
    Pada tahapan ini, para pengelola keuangan diminta untuk dapat melakukan perencanaan terkait pengeluaran keuangan yang akan dilakukan. Hal ini juga termasuk di dalamnya mengatur prioritas. Pengelola keuangan harus mampu mengenali dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan sehingga dapat mengendalikan pengeluaran secara bijak. Pada tahap ini, pengelola sebaiknya membuat daftar kebutuhan dan keinginan berdasarkan urutan waktu terdekat dan prioritasnya.
  5. Menabung secara periodik
    Menabung sebaiknya dilakukan secara berkala. Dalam hal ini yang harus menjadi perhatian adalah konsistensi dalam menabung, bukan jumlah yang disisihkan.

Kesimpulan

Peran penting dalam pengelolaan keuangan dalam rumah tangga mengenai tiga hal yaitu perencanaan, pencatatan, pengambilan keputusan. Dari uraian diatas, bahwa pengelolaan keuangan di dalam sebuah keluarga bukanlah tugas istri saja tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh anggota keluarga, terutama bagi pasangan suami istri.
Lebih baik lagi apabila kesepakatan mengenai masalah keuangan keluarga bisa dilakukan sebelum menikah supaya pada saat berumah tangga tidak terjadi kesalahpahaman. Keterbukaan, komunikasi dan kesepakatan bersama adalah prinsip yang harus dipegang oleh masing masing pasangan dalam mengelola keuangan keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published.